Rabu, 17 Desember 2025

Fenomena "Fear of Missing Out" (FOMO) dan Dampaknya pada Kebahagiaan

Image of person feeling anxious looking at social media phone party photos distraction photo reference

Di dunia yang terhubung secara digital 24/7, kita tidak hanya hidup dalam realitas kita sendiri, tetapi juga terus-menerus disuguhi "sorotan terbaik" dari ribuan orang lain. FOMO (Fear of Missing Out) adalah perasaan cemas atau rasa takut bahwa orang lain sedang mengalami hal-hal menyenangkan atau berharga sementara kita tidak dilibatkan. Meskipun terdengar sepele, FOMO memiliki dampak psikologis yang mendalam terhadap kualitas hidup dan tingkat kebahagiaan kita.


1. Bagaimana FOMO Bekerja pada Otak

Secara evolusioner, manusia adalah makhluk sosial yang butuh diterima dalam kelompok. Di masa lalu, "tertinggal" dari kelompok bisa berarti bahaya fisik. Di era digital, otak kita salah mengartikan tidak ikut dalam tren terbaru atau tidak hadir di sebuah acara populer sebagai ancaman sosial. Hal ini memicu pelepasan kortisol (hormon stres) yang membuat kita merasa gelisah.

2. Dampak Negatif FOMO terhadap Kesejahteraan

  • Kelelahan Mental (Burnout): Keinginan untuk selalu "ada" dan "tahu segalanya" membuat kita sulit untuk benar-benar beristirahat. Kita terus-menerus mengecek ponsel, bahkan di jam tidur atau saat bekerja.

  • Ketidakpuasan Hidup: FOMO memicu perbandingan sosial yang tidak sehat. Kita membandingkan "behind-the-scenes" hidup kita yang penuh perjuangan dengan "highlight reel" orang lain yang sudah disaring secara estetis.

  • Keputusan Finansial yang Buruk: FOMO sering mendorong kita membeli barang yang tidak dibutuhkan atau melakukan investasi berisiko tinggi (seperti koin kripto yang sedang tren) hanya karena takut ketinggalan kereta.

3. JOMO: Penawar untuk FOMO

Lawan dari FOMO adalah JOMO (Joy of Missing Out). JOMO adalah kepuasan dalam memilih untuk tidak ikut serta, merasa nyaman dengan kesunyian, dan menghargai apa yang ada di depan mata tanpa rasa iri.

  • Fokus pada Kehadiran: Belajar untuk hadir sepenuhnya (mindfulness) dalam momen saat ini, meskipun momen itu hanya sekadar minum teh sendirian atau membaca buku.

4. Strategi Mengatasi FOMO

  • Kurasi Media Sosial: Berhentilah mengikuti akun yang secara konsisten memicu rasa minder atau cemas dalam diri Anda.

  • Tetapkan Batas Waktu Layar: Gunakan fitur pembatas aplikasi untuk mencegah scrolling tanpa tujuan.

  • Syukuri Hal-Hal Kecil: Praktik harian menulis jurnal syukur dapat mengalihkan fokus dari apa yang Anda "lewatkan" menjadi apa yang Anda "miliki".

  • Sadarilah Bahwa Segalanya Adalah Pilihan: Mengatakan "ya" pada satu hal berarti mengatakan "tidak" pada hal lain. Menghabiskan malam minggu di rumah untuk beristirahat adalah pilihan yang valid, bukan kerugian.

Kesimpulan Kebahagiaan sejati tidak ditemukan dalam pengejaran terhadap semua hal yang terjadi di dunia luar, melainkan dalam ketenangan saat kita merasa cukup dengan diri sendiri. Dengan mengenali gejala FOMO dan beralih menuju JOMO, kita bisa membebaskan diri dari beban perbandingan yang melelahkan dan mulai menikmati hidup dengan ritme kita sendiri.


























Deskripsi: Pembahasan mendalam mengenai psikologi di balik fenomena FOMO, dampaknya terhadap kesehatan mental dan finansial, serta pengenalan konsep JOMO (Joy of Missing Out) sebagai solusi untuk meningkatkan kebahagiaan di era digital.

Keyword: FOMO, JOMO, Kebahagiaan, Kesehatan Mental, Media Sosial, Perbandingan Sosial, Mindfulness, Literasi Digital.

0 Comentarios:

Posting Komentar